Rabu, 19 Oktober 2016

Merayu Tuhan

Kita tidak perlu saling menjanjikan apapun. Aku berdo'a sekuat tenaga, kau berdo'a semampumu. Agar nantinya Tuhan dapat kita rayu. Untuk mengubah alur yang kita mau. Tidak terkesan memaksa, tetapi hanya berusaha. Kalau saja lusa Tuhan terbujuk rayuanku pun rayuanmu. Kembalilah.

Aku tidak mau sok tau dalam menentukan alurku sendiri, aku tidak mau seenaknya mengatur ritme hidupku. Aku hanya ingin merayu Tuhan. Memohon dengan senyum manis
dan tangis tipis. Aku tidak mau histeris dan dramatis. Biarkan Tuhan yang atur seminimalis mungkin. Biar rapih dan enak kelihatannya.
Aku tidak dapat menjanjikanmu apa-apa. Tidak dapat memastikan aku akan kembali dalam waktu cepat. Tidak dapat memastikan hatiku masih seutuh pertama kita bertemu. Tidak bisa. Aku tidak bisa berjanji. Aku sedang berusaha, berdo'a sembari merayu Tuhan. Sehingga Tuhan berikan aku waktu untuk bisa menemuimu, berikan aku hati yang masih utuh dan kokoh kecuali jika kau yang menghantamnya.

Masih dengan perasaan yang sama terhadap orang yang sama. Aku mencintaimu jauh sebelum aku menduganya. Aku mencintaimu sejak awal kita bertemu. Dalam lembutnya tuturmu. Hingga aku sendiri yang memutuskan untuk mencintai senja seperti aku mencintai diriku sendiri. Aku tidak tahu apa maksud Tuhan terlambat menghadirkanmu. Aku pun tidak samasekali tahu apa maksud Tuhan membuat perasaanku lebih cenderung ke arahmu. Yang aku tau, kau mampu merebut separuh hatiku lalu separuh lagi kau rebut perlahan dan hati-hati. Kini habislah sudah kau bawa pergi. Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku senang seluruh hatiku ada di genggamanmu. Setidaknya kutitipkan sebentar. Lalu kau akan mengembalikannya kelak sekaligus bersama dirimu. Itu sebait do'aku kepada Tuhan.
Kali ini aku dibuat sesak dan sakit. Bukan semata-mata Tuhan tidak sayang aku. Tapi Tuhan selalu punya jalan terbaik; yang tidak pernah kita tahu.

Pergilah, aku sama sekali tak memberatkanmu. Kejar apa yang seharusnya kau kejar. Karna kelak kau akan menopang yang lebih besar dari ini.
Berlarilah, gapai segala mimpi-mimpi yang sempat kau curahkan kepadaku. Ditengah malam sepi. Saat semua orang sibuk dengan mimpinya. Kau justru asik bercerita denganku.
Aku disini masih merapatkan kedua tanganku sambil mendongakan kepala. Merayu Tuhan. Agar kau bahagia; setidaknya bersamaku.

Aku tidak mau ceroboh untuk yang kedua kalinya. Aku hanya jalani apa yang Tuhan beri tanpa protes. Karna Tuhan tahu mana yang terbaik untukku. Aku percaya, aku akan bahagia dalam dekapan yang tepat. Bukan dalam tangis dan sesak; setidaknya bersamamu.

Sudah berapa hari kau pergi? Menghindar dariku. Menghilang dari kehidupanku. Aku seperti kehabisan energi, seperti kehilangan separuh hatiku. Aku tidak nafsu makan, bahkan aku sering memarahi siapa saja. Itu karna kau telah mengambil sebagian lainnya. Entah seperti apa caranya. Aku pun tidak tahu jelas. Yang aku tau semenjak kau pergi. Aku jadi kehilangan diriku sendiri, menjadi orang lain dengan amarah yang sulit dikendalikan.

Seminggu yang lalu. Ketika kau bilang bahwa ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Aku jadi serba salah mengatur perasaanku. Aku jadi kebingungan menentukan arahku. Kau buyarkan harapan yang sempat aku pahat sendiri. Bersama ribuan rindu tajam. Dan sayatan sendu nan merdu namun gaduh. Aku menggapai rindu yang perlahan jatuh dari tangkai pertahananmu. Aku lihat rindu menumpuk disana. Namun akhirnya tuntas seketika. Kau jatuhkan satu persatu. Memintaku untuk mengambilnya, lalu merasakan setiap rindu berbeda irama. Ada satu rindu yang paling menggebu. Bahkan tersayat jiwaku mendengarnya. Aku terdiam dalam dekapmu kini.

Selalu ada gemuruh dalam hati yang tak mampu kukendalikan seutuhnya. Hanya mampu kuseimbangkan intonasinya tanpa merubah riuh harmonisasi yang ada.

Malam memang selalu jadi moment yang pas untuk bertemu. Teduhnya cahaya rembulan dan kerlap-kerlip bintang menambah ketenangan dijiwaku. Angin semilir menemani pertemuan pertama dan terakhir kita--katamu. Tahun ini memang musim hujan, hujan tidak bisa diperkirakan menggunakan perasaan. Aku berharap tidak turun hujan malam ini, karna aku punya janji menemuimu.
"Kira-kira malam ini hujan tidak ya?" ucapmu.
"Malam ini tidak akan hujan. Tuhan mengijinkan kita bertemu." aku meyakinkanmu.

Kita punya banyak kesamaan. Dari mulai makanan hingga group vocal favorit kita. Aku sangat suka Sate padang begitupun denganmu. Aku menggemari beberapa lagu karya Band asal Jogjakarta; Sheila on 7. Dan ada 1 lagi, kita sama-sama mengagumi kata. Kita mampu menuangkan segala gundah dan bahagia dalam kata. Kau ingat kita pernah berbalas kata? Kau sebutkan satu kata, lalu aku rangkai seindah yang kau mau. Begitupun sebaliknya. Aku sebutkan satu kata dan kau rangkai sesukamu. Aku selalu suka rangkaian katamu. Tidak ku sangka kau bisa seromantis ini.
Sekalipun nanti kau pergi, aku masih selalu ingat ritual rutin yang kita lakukan setiap hari. Kita selalu asik bercumbu dengan kata. Seperti katamu; selama kata masih mengalun indah di dirimu maka tidak ada jenuh bagiku.

Kemelut di jiwaku masih sama. Aku tidak nyaman dengan seseorang yang terlanjur Tuhan beri. Aku sesak menahan perasaanku. Aku menangis setiap malam seringkali mengingatmu. Menyesali keputusanku. Namun nyatanya aku harus tetap jalani. Karna aku yang sudah memilih. Ku akui aku sangat ceroboh. Akan kuperbaiki semua ini. Tapi aku tidak bisa berjanji. Biar Tuhan yang beri aku waktu.
Aku ingin kau dekap erat sekali saja. Menangis di pelukmu sembari menceritakan kegundahanku. Aku benar-benar penat. Bawa aku pergi. Dari bisingnya dunia ini. Aku hanya ingin bersamamu; mendongakkan kepala, merapatkan kedua tangan sembari merayu Tuhan.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Nomormu masih yang lama kan?

Aku mencintai seseorang hari kemarin. Namun tidak untuk hari ini. Ketika aku memutuskan mendongak pada langit. Melihat secercah kebahagiaan yang terlukis disana. Langit melukis wajah tampanmu. Membuat aku lupa akan cinta yang kutanam kemarin pada seseorang yang berbeda. Aku seolah terdiam. Masih dengan langit cerah. Seolah mengisyaratkan ada harapan yang bisa aku gapai pada orang sepertimu. Aku kembali beranjak dari zona ku. Menyusuri teka-teki yang telah Tuhan buat. Mencoba memecahkan ragu yang berkecamuk dalam hati. Meyakini perasaan terdalam bahwa cinta sesungguhnya tidak bisa dipaksakan. Aku jenuh. Risih. Tidak sanggup menahan sesakku. Sudah penuh luka sepertinya. Namun kau menyadarkanku bahwa takdir tidak mungkin kita lawan. Kita hanya mampu berdo'a sekuat-kuatnya hingga alam dengar rintihan kemelut dalam dada. Aku menahan sesakku sama seperti menahan inginku merubah takdir. Sakit rasanya. Bergejolak bagaikan air mendidih. Merusak seluruh nyamanku. Membuat fikiran tak menentu.
Aku mungkin tidak bisa melawan takdir. Aku pun tidak mau sok tau dalam menentukan jalan hidupku. Namun kau selalu bilang kekuatan do'a itu tiada duanya. Aku berjanji padamu akan terus berdo'a untuk segenap rasa yang selalu kualunkan dalam rindu, kubenamkam dalam sendu. Hingga sesak semakin berkurang karna kau mampu mendekapku dengan sekumpulan asa yang kau miliki. Kau yakinkan bahwa Tuhan tidak akan mungkin membuat kita sakit dan sesak. Aku percaya itu. Sejak kau dekap aku.

Malam semakin dingin. Aku semakin resah menunggumu. Entah apa yang kufikirkan sedari tadi menunggu. Khawatir kau kecewa pada wajah asliku atau mungkin kau akan berlari begitu tahu aku tidak sesuai harapanmu. Namun tidak. Kau bukan tipikal perayu. Yang dengan mudahnya membuat kedua pipiku merah. Namun kau hanyalah manusia yang berucap tulus atas apa yang kau rasa.

Kini, kita sudah ada dipinggiran kota. Berbincang hangat. Tertawa, bergurau bahkan kau sesekali meledekku. Aku memang selalu tersipu jika kau yang bicara. Entah binar apa yang nampak dipelupuk matamu. Membuat aku kecanduan akan hal itu. Aku menatapmu. Tidak bosan sedetikpun. Kau pun menatapku. Tersenyum seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Apa yang hendak kau utarakan? Katakan saja aku ada disini untukmu" kau berucap seolah tahu bahwa ada yang aku pendam sendiri. Aku tersenyum hangat menatapmu. Memeluk erat bola mata yang menusuk dan menggelinding di relung hati. "Kumohon singgahlah sebentar lagi. Katakan padaku bahwa kau tidak ingin melepaskanku" kedua mataku berkaca-kaca. Kau nampak sedikit terharu melihat raut wajahku yang berubah. "Aku tidak mungkin singgah lagi. Aku akan pergi. Melepasmu bersama lelaki pilihanmu. Karna jika aku mencintaimu aku tidak akan mungkin tega memperpanjang waktu singgah ini dan membuatmu semakin kebingungan nantinya."
Dalam hatiku menangis. Ingin aku teriak sekuat tenaga. Namun aku tahan hingga sesak semakin menghujam. Mungkin memang aku yang salah. Aku yang ceroboh. Terlalu cepat mengambil keputusan hingga aku sendiri yang kebingungan. Dan kau, tidak samasekali salah. Kau hanya membuka jalan lebar agar aku bisa memilih. Ini belum terlambat. Masih ada banyak waktu. Aku belum sepenuhnya mutlak memilih lelaki itu. Aku masih punya sejuta cara untuk berdo'a agar kelak jika Tuhan mengijinkan aku bertemu denganmu lagi, maka tidak akan pernah kulewatkan kesempatan terbaik dari Tuhan.
Kau boleh saja pergi. Namun cinta tahu kemana dia akan berlabuh. Berlabuh di dermaga kerinduan yang sesungguhnya pun menentramkan hati.

Dan kini, sesaat setelah kau pergi. Aku seperti kehilangan separuh hatiku. Mungkin tidak sengaja terbawa olehmu. Tersimpan didalam saku celanamu. Dan kau ambil jika kau juga rindu.

Aku akan menghubungimu, nanti. Nomormu masih yang lama kan?

A. Yunanda

Kamis, 13 Oktober 2016

Aroma Senja

Aroma basah tanah tercium dari kejauhan. Dedaunan mulai gugur perlahan jatuh hingga terendam. Basah. Dan mengalir semaunya. Sampai akhir perjalanannya, hujan masih bertahan dengan rintik-rintik, aroma tanah masih sangat khas terasa. Beberapa debu tersisa beterbangan menghindari hujan. Mencoba menjangkau daun yang masih tegap pada tangkai, namun ternyata jatuh juga. Debu hilang arah, hingga ia basah bersama tanah yang lainnya. Bergumpal hingga menyatu lalu terpisah dari kerangka aslinya. Berbincang dalam--sampai hujan paling deras menenggelamkan hingga terpisah.

Entah apa yang hendak Tuhan berikan sore ini setelah hujan. Entah apa yang hendak Tuhan tunjukan setelah daun berguguran.
Sekejap saja hujan reda, namun tetesnya masih mengalir diujung daun kering mengenai kelopak mataku yang sedari tadi rindu akan tangis, ini hanya sekedar membasahi agar tidak terlalu kusam, agar lebih ringan nantinya.
Kali ini aku terdiam. Melihat sebaris warna indah sore hari menjelang malam. Lebih indah dari aroma tanah setelah hujan, lebih indah dari dedaunan yang ikut basah mengalir deras dan tentunya lebih indah dari hujan itu sendiri. Sebut saja ia senja; hangat jika aku menatapnya, teduh jika aku merengkuhnya. Aromanya merindukanku, seperti secangkir kopi favorit siapa saja, hangat dan sangat mengesankan.

Aku jadi suka senja, entah siapa yang memulai, namun rasanya aku selalu ingin bernafas tenang ketika senja membersamai. Aku rasakan aroma kebahagiaan yang sesekali Ia tunjukan pada menit terakhir.
Pada sisa-sisa redupan matahari yang hampir tenggelam, pada tetesan akhir diujung dedaunan hingga aku yakini tidak ada yang lebih pantas bersama senja selain diriku sendiri. Sampai senja menjelma, bak seorang manusia dengan kehangatan yang tiada hentinya.

Petang me-matang

Kita punya janji. Bertemu saat petang tiba, dikediaman alam Tuhan, lalu bergurau sesuka kita. Kau bergegas menghampiriku, memastikan bahwa ini akan menjadi kenangan yang tidak akan mungkin kau lupakan. Hingga nanti, kita bertemu lagi.
Sorotan lampu senter kau arahkan tepat diwajahku hingga mengenai kedua mata. Ini masih sangat petang. Buang saja itu alat penerang. Agar bimbang tidak semakin bergelombang. Atau waktu kita akan semakin hilang. Dimakan ulat dedaunan, atau semacam hama tanaman. Petang tidak selalu sirna, ia masih terang dengan kunang-kunang bahkan cahaya mata orang-orang. Kita berjalan menyusuri petang, belum ada tanda-tanda malam datang, hanya segaris sunset ditengah sawah pematang. Sunset belum habis, masih terang dan bimbang untuk tenggelam. Kau berjalan masih seirama denganku, kaki kananmu beriringan dengan kananku. Seirama namun tetap saja pandangan kita berbeda, kau mendongak terpukau pada senja yang awet, aku tertunduk memerhatikan jalan, khawatir kita akan salah arah. Petang sunyi. Sunset semakin turun jauh. Dan kau semakin riuh, Meneriaki sajak kampungan disisa waktu. Mengatur bait yang tidak beraturan. Sesukamu. Walau berantakan. Tapi aku suka. Petang jadi tidak terlalu sunyi. Karna kau bergumam sendiri. Sambil sesekali menyikut lenganku. Lalu aku tertawa bersamamu.
Kita hampir sampai, pada tujuan yang semestinya. Tepat sekali ketika sunset benar-benar habis dan kau malah menangis. "Tenang saja, petang masih ada esok hari dan hari-hari berikutnya" aku menenangkanmu agar tidak semakin terisak, namun kian menjadi. Jika kau menangis, menangis dan terus menangis, kita akan terlambat sampai di perapian rembulan, kau akan kedinginan nantinya. Pegang saja tanganku agar kau tidak tersesat.
Aku rasakan bahuku semakin basah karna ulahmu. Raut wajahmu berubah. Suaramu kian parau. Seperti kehabisan energi. Kau menangis sih, coba jika kau diam saja. Tutup mulut. Dan tenang didekapku. Mungkin kita akan lebih cepat sampai di perapian rembulan. Tetapi tidak apa lah. Asal kau tidak merengek meminta sunset untuk kesekian kalinya. Aku kesulitan jika harus hadirkan sunset dibawah sinar rembulan. Dan kau harus memahami itu.

Perapian rembulan nampak lengang, tidak ada suara gaduh, kau tidak lagi merengek meminta sunset dikala petang. Hanya ada aku, kau dan sepucuk petang mematang.
"Bisakah aku menikmati petang yang lain bersamamu?" perempuan kecil itu tersenyum haru menatapku. "Tentu saja." Aku mengangguk.

Kamis, 22 September 2016

Kopi [2/2]

Gemuruh angin kencang menambah riuh. Gundah dihatiku semakin merambat jauh. Aku tersudut dikeheningan malam menunggu rindu. Menghempaskan seluruh tubuhku di perapian rembulan, menambah hangat keadaan hati. Lalu aku bersandar menghampiri. Hingga saatnya nanti, kau yang biarkan aku pergi.
Setidaknya aku masih bisa bertukar cerita pada sendu. Bukan lagi dirimu yang berpindah dari titik singgah yang kau setujui. Atau mungkin dari arah yang akupun tak tau. Hingga lekat dalam cangkirmu seketika bersih tak berpenghuni.

Terasa dingin malam itu, aku jadi serba salah menempatkan diriku.
Aku mendadak melamunkan kopi, kebiasaan burukmu setiap pagi. Kau racik sendiri sesukamu, biar enak rasanya katamu. Padahal nyatanya kopimu tetap saja pahit. Sepahit rindu yang sesakan dada. Melambungkan asa berurai kecewa. Sampai aku tak sanggup memikul banyak hal. Hingga akhirnya kopimu yang menertawakanku disela-sela cangkir terdalam.

"Ada satu hal yang mampu diungkapkan oleh kopi namun tidak bisa diutarakan oleh hati" ucapmu diujung kepahitan tetesan terakhir kopimu. Aku tersontak menatap ragu kearahmu. Namun kau alihkan pada sisa-sisa kopimu. Aku diam saja, tidak mau berkomentar. Biar kopi yang ungkapkan semuanya.

Dipinggiran gelas bekas kopi; tersirat kelam rindu mengubah warna. terbesit dalam benakku secangkir kosong ini akan kuhilangkan ampasnya, namun kau melarangku. "Biar aku saja yang tau seberapa pekatnya cangkirku" kau merebut pelan dari genggamanku. Seolah kopimu bukan untuk dinikmati sembarang orang.

Ini semua tentang rindu, tentang kopi yang kau nikmati sesaat sendu. Tentang kopi yang selalu tau isi hatimu. Bukan lagi aku. Atau bahkan diriku. Hanya kau, kopimu dan juga dirimu.

Gemuruh hilang, berganti hujan. Menambah kelam suasana ditengah malam. Gemericik air tertumpah ruah menggenangi kedua pipiku. Rintiknya menghentakkan jiwa, merenggut sisa-sisa kesal dalam ampas cangkir keduamu. Kau masih melanjutkannya bersama hujan, menghidangkan secangkir berbeda untuk sendu selanjutnya. Namun masih pekat dan pahit tentunya. Aku geram, tak jua kau bersihkan, tidak samasekali kau hilangkan ampasnya. Sampai hujan reda, dan amarahku menipis, kau masih saja merayu mesra kopimu, memeluk lengkungan hangat ujung cangkir itu, Sampai tak tersisa. Habis. Namun masih berpenghuni.

"Aku tidak akan membiarkannya kosong tak berpenghuni hingga kau benar-benar pergi setelah kau cicipi kopiku"

Kamis, 15 September 2016

Berdamai Dengan Hati

Aku dibalik layar saja. Menatapmu hangat. Memerhatikanmu sembari tersenyum. Biarkan aku tidak usah mencampuri segala urusanmu. Aku akan diam mengamati secara detail dan membiarkanmu menikmati setiap detik yang kau jalani.
Tidak pernah terlewati sedikitpun, aku tau siapa saja temanmu, siapa saja yang kau sapa, betapa santunnya kau. Terlebih ketika kau sapa erat diriku kala itu.

Aku sudah berdamai dengan hatiku sendiri, membuang luka hati yang tertancap dalam, lalu kubiarkan udara masuk sesuka hati, agar kering bekas lukanya. Kau tak pernah tau bagaimana sulitnya aku berdamai dengan hatiku sendiri. Seringkali ia berontak tak ingin beranjak, namun aku paksa hingga hati memanja didekapku lalu kami berdamai dengan ikhlas. Sebenarnya ada kisah yang sulit aku lupakan perihal dirimu; ketika kau dengan mudahnya selalu menyanjungku, aku tersipu. ketika kau selalu ingin memujiku, dan aku terbenam malu. Ada banyak alasan mengapa aku memilih berdamai dengan hatiku sendiri, karna aku tidak mau melewatkanmu--walau sedetikpun.

Seperti halnya hujan, ia selalu berdamai dengan mendung, walaupun sebenernya ia tak suka. Jika aku jadi hujan, aku tak mau disandingkan dengan mendung, akan takut semua pasang mata menatapku, aku akan lebih memilih disatukan dengan mentari; sekalipun hujan membasahi namun akan tetap hangat. Tapi kenyataannya hujan harus disandingkan dengan mendung dan hujan harus mau berdamai dengan hatinya dan juga mendungnya. Hingga hujan dan mendung bisa memberikan yang terbaik untuk dunia dan seisinya.
Sama halnya dengan perasaan, ketika Tuhan tidak samasekali menggariskan sesuatu yang bukan untukku--aku harus bisa berdamai ikhlas dengan hatiku sendiri. Seperti hujan yang terbiasa dengan mendungnya, hingga ia nyaman sekali.

Aku berdamai dengan hatiku sendiri. Memilih singgah dan memutuskan untuk tetap jadi bagian hidupmu walau hanya sekecil kelereng, karna Tuhan metakdirkan aku untuk menjalaninya, menikmatinya sampai diantara kita tidak saling menopang beban berat. Memikul kenangan banyak. Kita hanya tulus dalam perasaan, selanjutnya jalani dengan ikhlas dan aku siap jadi bagian yang tidak begitu penting dalam hatimu.

Dan ketika aku mencoba berdamai dengan hati, kau nampak semakin kuat dihadapku, memelukku bagaikan kelereng kecil tak berdaya. Sudah tidak ada apa-apa diantara kita. Kita hanya pernah saling mencinta, namun Tuhan hanya inginkan kau peluk aku sekedarnya saja. Perasaan yang aku punya biar jadi pegangan disaat aku rapuh, dan aku akan mengingatmu dengan tepuk tangan paling kencang.

Sampai saat ini, kau harus tau. Aku belajar berdamai dengan hatiku sendiri dari "Hujan" dan "Mendung" .
Aku belajar menyimpan rasa dalam dari "Hujan" dan "Mendung", ketika mendung memendam gelapnya, hujan senantiasa mengguyur deras hingga mendung terlihat sangat lega dengan perasaanya.

Boleh jadi esok aku lebih ikhlas lagi, dan kita tetap jadi teman baik kan? Dan kau akan jadi bagian terhebat, lebih besar ukurannya dibanding kelereng dan lebih hebat perannya dalam hatiku. Sampai saatnya tiba nanti, entah perasaan ini melebur atau bahkan kian bertambah.

Aku sudah sangat mengetahui isi hatimu; Kau teramat sendu jika mendengar alunan kata merdu, kau teramat sulit menghapus pelangi yang ada dihatimu, kau terlalu banyak menyimpan rahasia tentang perasaanmu hingga akhirnya rindu yang utarakan itu semua. Dan kau punya satu keinginan yg sama denganku, ingin lewati satu malam saja untuk temui terakhir kalinya dibatas kepura-puraan hatimu (juga hatiku).

    "Akan kuberikan satu tempat paling depan untukmu nanti melihat aku menjadi yang kau do'akan pada Tuhan, karna aku mampu berdamai dengan hatiku sendiri dan berdamai ikhlas bak hujan dan mendung"

K A T A

Gemetar seluruh tubuhku. Menulis bagian untukmu. Tentang perasaan yang masih kusimpan rapat. Tentang khayalan yang masih ku ikat kuat.
Berputarlah isi kepalaku. Memberanikan diri dihadapmu. Ucapkan kata yang sempat aku buang dari muka bumi. Membuat hati tak menentu jadinya.
Bolehkah sekali saja aku temui? Walau mendung dan gelap
Bolehkah aku sekali saja memaksa?
Meski kau tak suka nantinya.

Ingin rasanya kutarik jemarimu, terikat kuat dengan jemariku lalu kuajak kau pergi meninggalkan kepenatan dimuka bumi. Walau hanya separuh waktu. Hingga ribuan pasang mata menatap sunyi, beradu pandang dan tertabrak argumen sendiri. Aku tak peduli berapapun waktu yang kau miliki. Bersediakah menikmati separuh langit bersamaku?

Kita terlanjur ada disudut kota, menghabiskan separuh waktu yang mungkin tidak akan terjadi esok hari. Kita terlalu kuat menatap alunan malam, hingga kau terpaksa bermalam bersama ribuan bintang.
Pada malam itu, akan kuceritakan padamu tentang semua yang pernah terjadi diantara kita, tentang apa saja yang pernah terjadi didalam hatiku. Biar kugenggam erat cerita yang pernah aku utarakan pada Tuhan, hanya aku dan ribuan kata yang tau. Untuk Tuhan? Sudah jelas Tuhan pasti tau, tidak perlu kusebutkan lagi. Karna Tuhan mutlak tau seluruh bagian ceritaku.

Hingga saat ini, ketika awal aku mengagumimu sampai aku jatuh hati, aku masih bercumbu dengan kata. Seperti yang kau bilang; jika kata masih mengalun indah maka tak ada jenuh bagiku.